Kamis, 09 Januari 2014

KRITERIA CALON ANGGOTA DPR, PEMIMPIN NEGARA

Indonesia adalah salah satu negara yang cukup subur, hanya mempunyai 2 musim yang membuat sangat mungkin bagi tanaman untuk dapat tumbuh dengan baik. Tanah yang subur dan letak yang strategis ditengah-tengah garis khatulistiwa membuat Indonesia menjadi salah satu negara yang beruntung dan dapat menghasilkan SDA yang baik. Namun sayang SDA yang baik di Indonesia tidak didukung dengan adanya SDM yang baik di Indonesa. SDM yang baik dan terampil perlu, agar SDA dapat dikelola dengan baik dan tidak disalahgunakan. Pengelolaan SDA kadang disalahgunakan oleh beberapa pihak, mengapa hal itu bisa terjadi? Latar belakang dari segala kesalahan yang terjadi adalah, kalau bukan peraturan yang membatasi longgar bisa juga disebabkan oleh kesalahan awal yang sengaja dibuat oleh pemimpin yang akhirnya diikuti oleh anak-anak buahnya. Masih banyak pemimpin-pemimpin sekarang yang hanya menggunakan nama besar serta uang untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi untuk menjadi seorang pemimpin namun kemudian ujung-ujungnya berakhir di pengadilan karena kasus korupsi. Gaji yang sudah cukup besar serta segala macam fasilitas yang sudah didapatkan tidak membuat puas, kenapa masih mau melakukan korupsi? Kalo dipikir-pikir aneh juga, masa tidak puas. Adanya kesempatan, mungkin menjadi salah satu alasan utamanya serta banyaknya pihak-pihak lain yang melakukan hal tersebut, memebuat ketakutan untuk melakukan korupsi berkurang, karena beranggapan apabila ketahuan ,toh....akan dihukum bersama-sama.
Sekarang harga-harga yang semakin naik, kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang semakin sulit, persaingan yang ketat, serta ditambah bertambah panasnya bumi, membuat kita tidak mau kan, hanya menikmati sedikit yang seharusnya bisa kita dapat banyak, hanya karena sebagian dikorupsi oleh pihak-pihak yang hanya mementingkan kepentingan mereka sendiri? Tentu saja tidak, bayangkan mereka sudah berlega-lega dengan AC bahkan membeli lebih dari 1, sedangkan kita masih menggunakan kipas angin biasa. Mereka sudah memiliki mobil lebih dari 1 bahkan berlega-lega, kita berdesakan di bis dan menikmati macet yang juga disebabkan bercecernya mobil yang mereka beli di jalanan, oleh sebab itu sekarang kita harus cermat dalam memilih pemimpin-pemimpin negara nantinya. Pemimpin yang tidak hanya mementingkan diri serta mau bertanggung jawab terhadap jabatannya serta yang dipimpinnya.
Dari beberapa artikel yang saya baca, melihat dari kekurangan negara ini dengan negara lain, serta dari beberapa aturan yang melenceng saya dapat merumuskan 12 kriteria calaon pemimpin masa depan, yang akan kita bahas kali ini adalah bagaimana kriteria calon anggota DPR masa depan yang juga merupakan pemimpin negara ini (legislatif).
1. Calon anggota DPR haruslah Warga negara Indonesia
Yang mengerti bagaimana seluk beluk Indonesia, seperti tahu budaya-budaya Indonesia, tahu wilayah-wilayah Indonesia, tahu keragaman Indonesia, mau menelusuri kekurangan-kekurangan yang terjadi di daerah-daerah terpencil dan memajukan aset Indonesia yang berpotensi namun terbengkalai sebelum disadari bahkan diambil oleh negara lain, pokoknya memperhatikan apa yang dimiliki oleh Indonesia, yang jarang diketahui sekalipun. Yahhh,,,walaupun itu juga merupakan kewajiban seluruh warga negara, namun akan lebih baik apabila pemimpin lebih dahulu mengetahuinya karena memiliki tanggung jawab yang lebih besar kepada negara ini.
2. Calon anggota DPR harus memiliki kepemimpinan yang beramanah.
Kepemimpinan yang beramanah. Kepemimpinan pasti berbicara tentag kekuasaan, kekuasaan akan ada apabila memiliki posisi dan jabatan yang tinggi, dan harus diingat bahwa adanya posisi dan jabatan yang diterima adalah merupakan amanah yang diberikan oleh orang lain karena dianggap mampu untuk mengemban tugas yang diberikan sesuai posisi yang didapat. Lawan dari amanah adalah khianat, oleh sebab itu angota DPR haruslah pemimpin yang memiliki kepemimpinan yang amanah, tidak berkhianat, yaitu pemimpin yang tidak curang dalam proses pencalonannya, seperti memalsukan ijasah, karena akan repot nantinya apabila posisi yang benar-benar penting diisi oleh orang yang tidak berkompeten bahkan tidak mau belajar,tetapi hanya posisi semata, kita tidak mau kan dipimpin oleh orang yang tidak lebih pintar dari kita?
3. Calon anggota DPR haruslah memiliki integritas dan kompetensi
seorang pemimpin, pemimpin haruslah seorang pemimpin yang tegas dalam mengambil keputusan, tidak terpengaruh oleh orang lain karena tanggung jawab anggota DPR besar yaitu menyangkut rakyat. Namun selain tegas pemimpin juga harus memiliki sikap yang humanis atau penuh kasih sayang, mau mengerti penderitaan rakyatnya ataupun merasakan, mungkin bisa diawali dengan menaiki Transjakara busway, hehe, karena apabila merasakan pasti akan lebih mudah untuk menemukan solusi-solusi dari permasalahan yang timbul di negara ini.
4. Calon anggota DPR masa depan harus pemimpin yang memiliki pemikiran yang visioner atau jauh ke depan,
Tidak hanya memikirkan yang sekarang dimana sekarang itu adalah waktu dimana mereka masih menjabat, tetapi adalah bahwa yang mereka putuskan juga harus tetap berjalan ke depannya atau berhasil dilaksanakan seterusnya, hal yang terus berjalan sebagaimana mestinya dan dapat bertahan lama tentu akan terus diingat, oleh sebab itu jangan bekerja untuk hasil yang ada hanya sebentar saja, itu bisa dibilang hanya usaha yang setengah-setengah saja. Memberikan solusi yang hanya sementara namun nantinya hilang hanya akan membuat sesuatu menjadi tidak efisien dan efektif, cotohnya konversi minyak tanah ke gas, yang dulunya diharapkan mampu meringankan rakyat sekarang justru menjadi beban karena harga yang semakin mahal. Harga gas yang mahal malahan membuat rakyat semakin kesulitan dan akhirnya berpindah alternatif bahkan ke kayu bakar yang lebih primitif.
5. Calon anggota DPR haruslah orang yang rendah hati dan mau berpenampilan sederhana.
Rendah hati yang dimaksudkan disini adalah anggota DPR yang tidak sombong, tidak sombong dan menjadi lupa diri karena sudah merasa jabatannya yang sekarang sudah tinggi sehingga mampu melakukan apa saja sesuai sekehendak hati. Diatas langit masih ada langit, maka janganlah sombong, ingat prinsip padi semakin berisi semakin merunduk.
6. Calon anggota DPR haruslah sesorang yang benar-benar berwawasan luas dan pintar
Mencontoh bagaimana cara negara yang lain, yang telah lebih maju memecahkan masalah yang dahulu pernah dihadapinya. Macet, banjir adalah sesuatu yang pernah dilalami oleh negara lain, contoh bagaimana negara lain dapat mengatasinya.
7. Calon anggota DPR haruslah orang yang tidak malas,
Maksudnya adalah seseorang yang tidak menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak berguna, karena lebih baik melakukan sesuatu yang berguna dan menghasilkan daripada melakukan sesuatu yang menarik tetapi tidak menghasilkan apa-apa.
8. Calon anggota DPR haruslah seseorang yang disiplin dan mau menaati waktu,
Sungguh tidak menyenangkan apabila saat melihat televisi tentang rapat-rapat di ruang paripurna terkadang hanya sedikit yang hadir, entah terlambat atau mangkir, teapi yang jelas itu juga bukan contoh yang baik, ingat waktu adalah uang, time is money
9. Calon anggota DPR haruslah seseorang yang mampu memilih dengan tepat
Jangan hanya bisa menyuruh rakyat untuk memilih pilihan yang tepat saat pelaksanaan pemilihan, namun yang dipilih juga pun harus dapat memilih dengan tepat, memilih dengan tepat masalah yang harus didahulukan untuk diselesaikan, masalah mana yang lebih berpengaruh kepada masyarakat, jangan hal-hal yang mungkin sepele menurut saya, seperti aturan tentang pemakaian rok mini kemarin.
10. Calon anggota DPR yang baik haruslah pemikir yang baik,
Dapat memikirkan pemecahan masalah-masalah yang terjadi di Indonesia, fokus terhadap satu masalah tetapi dapat difokuskan menjadi pemcahan masalah yang lainnya.
11. Calon anggota DPR itu harusnya adalah seseorang yang tahu malu
Heran kenapa sekarang banyak para pejabat-pejabat dan anggota parlemen yang masih bisa senyum di kamera padahal jelas-jelas ketahuan korupsi.
12.Calon anggota DPR tidak akan KORUPSI, walaupun tidak ada manusia yang sempurna, namun sekiranya kita bekerja keras untuk mendapatkan hasil kerja yang sempurna agar menjadi pemimpin yang baik.
Sumber : pewarta-indonesia.com

Menjadi Legislator dengan Modal Minimal

Berhasil tidaknya anda menjadi LEGISLATOR sangat ditentukan oleh KEMAMPUAN ANDA UNTUK MEREBUT HATI MASYARAKAT PEMILIH lewat KAMPANYE yang anda lakukan atau SEGALA SUMBERDAYA yang anda perlihatkan, yang dari situ MASYARAKAT  MENILAI LALU MENCOBLOS ANDA DI PILEG KELAK.

Atas dasar itu, seorang Caleg akan  Mengkampanyekan dirinya  dengan sebaik-baiknya, segala sumberdaya akan dikerahkan demi terwujudnya keinginan: Menjadi Legislator, entah itu DPRD II, DPRD I atau DPR Pusat.

Secara Logika: 
  • Kampanye yang baik, sudah semestinya mendapatkan dukungan suara
  • Bantuan  yang banyak , sudah selayaknya mendapatkan dukungan suara

Tetapi terkadang:
  • Banyak Caleg dengan program bagus-performa meyakinkan-wawasan luas tetapi GAGAL TOTAL
  • Sejumlah Caleg dengan Modal besar justru TERSUNGKUR

Artinya, merebut HATI MASYARAKAT bukan perkara mudah, Ia tidak bisa didekati dengan cara berpikir logika semata.


Kampanye disusun dengan berdasarkan pendekatan logis yang Obyektif, Besaran Modal yang disiapkan juga atas dasar Logika bahwa semakin besar dana yang digelontorkan maka semakin besar peluang lolos.


Sayangnya, HATI MASYARAKAT yang ingin direbut itu justru TIDAK LOGIS, karena ia lebih banyak dipengaruhi Emosi dan suasana.


Pada titik inilah anda butuh Cara Pendekatan Lanjutan guna mempertinggi peluang keberhasilan dari perjuangan Kampanye maupun Modal yang akan dikeluarkan. 

Pendahuluan

Animo Masyarakat menjadi Legislator di negeri ini bisa dibilang tinggi, hal itu tentu saja karena Gengsi dan Keberadaan Lembaga Legislatif yang makin besar di  alam  Demokrasi Indonesia dewasa ini.


Sebagai Lembaga dengan Kekuasaan besar, mengatur dana pembangunan triliunan rupiah, itu menimbulkan berbagai motivasi dari Para Caleg yang ingin masuk kedalamnya.

Idealnya,  seorang Caleg adalah orang yang berasal dan  tumbuh berkembang bersama masyarakat yang diwakilinya,  memahami pahit getir, susah senang bersama-sama rakyat sehingga aspek keberpihakan dalam memperjuangkan aspirasi  kelak tentu saja menjadi lebih tinggi.

Sayangnya,   Sistem perekrutan atau penjaringan Caleg yang mengedepankan Popularitas dan Uang menjauhkan lahirnya Calon-calon legislator seperti yang disebutkan di atas. 



Ada benarnya syair lagu Iwan Fals ”jangan bicara tentang idealisme,  mari bicara tentang berapa uang di kantong kita

********************
Ribuan Caleg yang sebentar lagi berjuang lewat Partai-partai pengusung mereka adalah Calon-calon Anggota Legislatif  Angkatan ke-4  (semenjak negeri ini menjalankan Demokrasi),  mengisi salah satu kursi di DPRD II, DPRD I maupun DPR Pusat.

Dengan sistem penjaringan yang boleh dibilang sama dengan angkatan-angkatan sebelumnya, kita sepertinya hanya bisa menunggu berapa banyak dari mereka (yang nantinya lolos) akan kembali terjerat korupsi akibat tuntutan Modal Caleg yang mesti segera dikembalikan. 

Ini tentu saja semacam lingkaran ketidakpastian antara upaya pemberantasan korupsi dengan Sistem penjaringan Caleg yang memicu orang untuk (terpaksa) melakukan korupsi.
  


Kalau sudah begini, Kita sepertinya akan terus dipusingkan dengan urusan memberantas korupsi dalam sistem yang justru menyuburkan korupsi itu sendiri.   Bila sudah demikian, apa yang bisa kita harapkan dari Sistem Demokrasi yang sejatinya harus lebih mensejahterakan rakyat? 
*********************************

Tulisan berikut ini coba untuk memberi harapan baru bagi para Caleg potensial  di berbagai Daerah di Indonesia,   yang mungkin saja terpinggirkan dengan berbagai aturan seleksi yang berat, bahkan terlalu berorientasi pada kekuatan Uang.

Terlepas bahwa Popularitas dan Uang adalah fakta yang harus dihadapi,  tetapi yang lebih penting adalah Bagaimana dengan popularitas yang dibangun oleh Uang mereka  secukupnya, namun dengan Niat yang besar ( untuk menjalankan  fungsi wakil rakyat dalam arti sesungguhnya)….. orang-orang seperti ini bisa terjaring dan LOLOS.

Cara Pendekatan Lanjutan yang ingin saya bagikan Rahasianya di bawah nanti, bukan untuk meniadakan Upaya-upaya umum yang dilakukan Caleg, tetapi mempertinggi Peluang Keberhasilannya.


Persiapkan segala sesuatu dengan lengkap, Lakukan yang Terbaik

Sebagai Caleg, setidaknya anda harus 
mempersiapkan-menggali dan memaksimalkan 4 (empat) hal berikut ini guna menarik simpati dan merebut hati Calon Pemilih, sbb:
1. Performa.  Seorang Caleg  adalah Calon Penyambung Lidah Rakyat sehingga aspek penampilan, komunikasi, ramah, hangat,  dsb harus ditonjolkan.  Performa Caleg dapat menumbuhkan simpati, oleh karenanya aspek ini perlu diasah dan diperlihatkan pada waktu kampanye.  


2. Wawasan. Seorang Caleg perlu memiliki pengetahuan akan segala seluk beluk perpolitikan, pemahaman Undang-undang dan berbagai aspek kebangsaan lainnya.  Wawasan Caleg yang luas dapat menumbuhkan simpati, oleh karenanya aspek ini perlu dipersiapkan dengan baik. 

3. Program.  Seorang Caleg pastinya memiliki visi dan misi yang ingin ia diperjuangkan berdasarkan apa yang ada di masyarakat,  sehingga lewat pemaparan program itu,  masyarakat akan mendukung pencalonannya.  Program Caleg  dapat menumbuhkan simpati,  oleh karenanya aspek ini wajib digarap dengan serius.

4. Bantuan spontanitas.  ketika mengunjungi  Calon Pemilih pada Dapil yang ditentukan, Caleg biasanya memberikan bantuan spontanitas berdasarkan apa yang dibutuhkan masyarakat tersebut.  Bantuan ini bisa berupa barang atau Uang tunai. Lakukan ini untuk hal yang memang perlu dibantu, tetapi hindari upaya membeli dukungan.


Keempat  point di atas bisa kita sebut disini sebagai bentuk-bentuk  KOMUNIKASI OBYEKTIF,  artinya segala yang dikomunikasikan, baik itu lewat bahasa tubuh (performa), Wawasan, Program dan bantuan; semuanya adalah hal logis yang akan dicerna oleh masyarakat untuk selanjutnya masyarakat tsb menyikapinya lewat dukungan suara. 

Sebagai bentuk Komunikasi Obyektif yang mengedepankan nalar dan logika, maka:
  • Performa Caleg yang baik,  pastinya mendapatkan dukungan masyarakat
  • Wawasan Caleg yang luas,  pastinya memperoleh dukungan masyarakat
  • Program Caleg yang merakyat, pastinya didukung masyarakat
  • Bantuan Caleg yang banyak, semestinya  mendapatkan imbalan berupa dukungan.

Logikanya begitu dan sudah semestinya begitu. Semua Caleg akan berpikir logis seperti diatas, lalu siapakah yang unggul?

Disinilah dibutuhkan sebuah Cara Pendekatan berbeda  guna melengkapi  aspek Performa-Wawasan- Program dan Modal sehingga anda menjadi yakin 100% sebagai Pemenangnya.
Adapun Strategi pendekatan berbeda itu,  kita sebut disini sebagai KOMUNIKASI SUBYEKTIFatau istilah inggrisnya Subjective Communication.


Mengapa harus Subjective Communication?

Anda mungkin pernah mendengar ungkapan usang ini: darimana datangnya cinta? dari Mata turun ke Hati.  Sebuah ungkapan sederhana yang kelihatannya sepele tetapi punya arti dalam.

Berdasarkan itu: 

darimana datangnya Cinta (Masyarakat Pemilih) kepada anda? dari Mata mereka yang melihat Performa-Wawasan-Program dan Bantuan anda lalu turun ke Hati mereka (untuk diresapi) lalu diekspresikan dengan wujud cintaMencoblos anda.

darimana datangnya penolakan masyarakat pemilih kepada anda? dari Mata mereka yang melihat Performa-Wawasan-Program dan Bantuan anda lalu turun ke Hati mereka (untuk diresapi) kemudian diekspresikan denganMencoblos Caleg Lain.

Kampanye Anda dinilai oleh HATI Calon Pemilih, Tergantung dari Hati Calon Pemilih. 


Perhatikan lagi Ungkapan usang berikut: dalamnya lautan dapat diukur, dalamnya Hati tak ada yang tahu.

Hati Pemilih adalah sesuatu yang sulit diterka bahkan misteri. Anda hanya berusaha meraba dan mendekatinya dengan berbagai bentuk Komunikasi Obyektif  tetapi anda sendiri tetap tidak tahu isi di dalamnya.

Kampanye Caleg disusun berdasarkan pendekatan logis, sedangkan Hati Masyarakat (yang ingin direbut) justru tidak logis, karena ia lebih banyak dikendalikan faktor emosi dan perasaan.

Inilah kenapa anda mesti menggunakan Komunikasi Subyektif supaya anda tidak lagi meraba-raba tetapi langsung mempengaruhi si organ tubuh Pembuat Keputusan: HATI PEMILIH.

Teknik Subjective Communication ini memang diciptakan guna membantu orang untuk selalu keluar sebagai Pemenang, walau dalam kondisi sulit, persaingan ketat  dan situasi yang kurang bersahabat.

Inti dari Komunikasi Subyektif ini adalah berkomunikasi dengan Calon Pemilih lewat Pikiran Bawah Sadar mereka Tanpa perlu bertatap muka.   Dalam penerapannya,  Komunikasi  ini  dilakukan sebelum Caleg  menemui Calon Pemilih sehingga ketika bertatap muka,  berbagai bentuk komunikasi Obyektif  (performa, wawasan dan Program) lebih mudah untuk tersampaikan dan diterima.

Begitu juga ketika hari H pencoblosan,  Caleg dapat berkomunikasi  subyektif  untuk mengingatkan Calon Pemilih guna mencoblos dirinya, karena ia adalah orang yang tepat bagi mereka.
  



Berhasil tidaknya Caleg menggunakan  Komunikasi Subyektif ini,   salah satunya bergantung pada Niat Baik dari Caleg itu sendiri.

Maksudnya begini,  bila Caleg  punya Niat Tulus dan iklas untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat (yang diwakili suaranya kelak)  maka komunikasi subyektif  akan menggerakkan hati masyarakat tsb guna memilih Caleg ybs dibandingkan Caleg lainnya.     

Artinya disini:   Caleg tsb  untung karena mendapatkan suara,  Masyarakat juga untung karena memilih Caleg yang tepat Istilahnya win win solution.

Anda mungkin saja tidak mempercayai kedasyatan Komunikasi Subyektif ini, tentunya karena anda belum pernah mengenalinya lebih dalam.  

Sisa waktu yang ada hingga masa kampanye kelak,  cukup buat anda untuk mempelajari bagaimana mengenali,  mempraktekkan hingga mempergunakannya   untuk mewujudkan Impian anda sebagai  Legislator.

Mencari Calon Legislatif 2014 Yang Lebih Baik dari 2009




10 partai yang telah lolos verifikasi dan siap bertarung pada PEMILU 2014 kini sudah mulai membuka diri untuk menjaring para Calon Legislator – Caleg. Berbagai cara ditempuh mulai dari Psikotes, tes kesehatan, tes akademik, hingga tes urine atau tes yang berhubungan dengan identifikasi pemakaian Narkoba.Semua itu dengan tujuan yang sama yaitu mendapatkan kader Caleg yang berkualitas baik dari jasmani, rohani dan intelektualitas. Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar Priyo Budi Santoso, terkait pemilihan Caleg, mengatakan, Partai Golkar akan memilih caleg terbaik yang diputuskan secara internal dan kriterianya tidak tertulis untuk public. Partai ini akan memilih kader asli daerah yang kemungkinan besar akan menang di daerahnya. Sementara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan PDIP, seperti apa yang dikatakan Sekretaris jenderal PDIP Tjahjo Kumolo, partainya kini sedang mengamati dan meneliti secara tertutup sejumlah intelektual yang berpotensi diundang menjadi caleg. Namun sebelumnya mereka akan mengikuti mekanisme pencalegan yang berlaku seperti wajib mengikuti psikotes dan tes urine. Namun apakah perekrutan caleg yang saat ini dilakukan oleh Partai perserta pemilu 2014  dapat memberikan hasil dan kualitas yang baik untuk masa depan bangsa dan negara ?



Saat ini partai cenderung merekrut figur caleg berdasarkan Popularitas atau seberapa banyak kemampuan keuangan calon untuk dapat berkontribusi kepada partai. Namun tertangkapnya politisi dan beberapa artis yang ditengarai dicalonkan oleh salah satu parpol untuk menjadi caleg, karena kasus narkoba, telah membuka mata para Panitia Seleksi caleg parpol dan masyarakat, perihal kualitas calon wakil rakyat yang duduk di DPR kelak. Dalam sebuah diskusi tentang pemilu di Jakarta, seorang guru besar ilmu politik dari Universitas Indonesia, Iberamsjah, mengatakan, untuk mendapat anggota legislatif yang berkualitas harus dilakukan fit and proper test dengan mengacu pada tes intelektualitas, tes spiritual dan tes emosional. Mempunyai kecerdasan tinggi, tapi tidak mempunyai keimanan yang kuat akan membawa kehancuran karena tanpa moral dan akhlak yang bagus. Selain itu situasi dan lingkungan Dewan Perwakilan Rakyat sering kali dalam tensi yang tinggi terutama dalam rapat pengambilan keputusan. Dapat dibayangkan jika tidak mengontrol emosi yang timbul adalah tarik menarik dan teriakan-teriakan penuh emosi. Karena itu dalam tahap penyeleksian kader dan caleg parpol 2014 diharapkan akan lebih baik, lebih selektif, lebih teliti dari Pemilu sebelumnya.

Sejatinya, keputusan diterima atau tidaknya caleg tergantung dari misi dan visi Parpol yang akan berkiprah di 2014. Jadi tidak harus bergantung pada sumber dana yang besar serta popularitas. Caleg dapat dinilai dari rekam jejak. Saat ini masyarakat sudah lebih pandai, dalam memilih. Figur yang menghambur-hamburkan uang dan hanya mengandalkan popularitas akhirnya akan menjadi sapi perahan saja oleh berbagai pihak. Jangan sampai caleg-caleg yang diusung para Partai Politik tidak disukai oleh rakyat sehingga kehadiran Golput atau golongan tidak memilih semakin besar dan akan merusak nilai demokrasi di Indonesia yang selama ini dipuji oleh masyarakat Internasional.

Rabu, 08 Januari 2014

Semangat bersatu dan bergotong royong untuk sebuah perubahan !!!


Ketua Umum menginstruksikan struktur dan kader terus bekerja, bersatu padu, dan bergotong royong agar PDI Perjuangan menjadi wahana pengorganisasian kekuatan Rakyat yang efektif dan ideal. “Kerja bukan hanya ke atas, tetapi juga ke bawah. Bung Karno bilang cukup pahami saja maknanya dalam kata ini: ‘Gotong Royong’, lalu bumikan itu ke segala kiprah perjuangan kita.”

Menurut Megawati Soekarnoputri, kader mesti menyediakan lebih besar lagi energi untuk bekerja bersama Rakyat. Karena itu kader harus sejauh mungkin turun ke Rakyat (paling bawah), hadir secara nyata, dan menjadi bagian dari solusi masalah Rakyat.

Menjadi kader yg utama adalah memiliki loyalitas. Loyalitas untuk selalu hadir dan berjuang bersama Rakyat, itulah yang disebut sebagai kerja ideologis. Selain itu kerja kader haruslah digerakkan oleh semangat pengabdian, bukan suatu kerja yang didasarkan pada kepentingan jangka pendek.

Membentuk suatu partai, sambung Ketua Umum, “Artinya harus mampu mengorganisir diri kita sendiri, bagaimana kita harus menjadi lebih baik secara terus menerus sehingga akhirnya menjadi partai pelopor. Bukan suatu perjalanan yang mudah karena semua ini alat perjuangan untuk mengorganisir rakyat, karena itu semua kader PDI Perjuangan harus mengetahui siapa dirinya.”

Masih menurut Megawati, warga PDI Perjuangan harus tahu ideologi partai, karena pada saatnya menjadi kader utama yang harus bersama-sama rakyat, menangis bersama rakyat dan tertawa bersama rakyat. “Karena hakekatnya kita itu adalah rakyat itu sendiri. Kader PDI Perjuangan bukan saja mendampingi rakyat, tetapi harus bersama-sama rakyat,” jelas beliau.

Megawati menegaskan PDI Perjuangan mengemban cita-cita untuk memakmurkan Rakyat. “Saya tidak mau rakyat dibuat menderita karena kepentingan partai politik. Partai politik berdiri untuk mengorganisir upaya mencapai kemenangan yang akan diberikan kepada Rakyat.”

Ketua Umum mengapresiasi Pengurus Anak Cabang (PAC) yang terus membenahi diri, konsolidasi, dan bekerja. “Keberadaan struktur partai di tingkat paling bawah, dan mengisinya dengan kader-kader terbaik merupakan bukti nyata bahwa partai sungguh-sungguh ingin melayani rakyat, dan bertekad memberikan layanan yang terbaik,”

Dalam berbagai kesempatan, Ketua Umum PDI Perjuangan mengingatkan seluruh kader agar tidak terlena kepada hasil survei. “Hasil survei boleh dilihat, tapi jangan dijadikan pegangan. Yang terpenting kita harus terus menerus menyiapkan diri; bekerja.”

Megawati mengatakan bahwa hasil survei bisa menjerumuskan bagi partai dan kader yang tidak tahan dengan segala puja pujian. “Menyebabkan kita malas bekerja, tidak perlu susah payah turun ke bawah, hingga pada akhirnya ditinggal rakyat.”

Konsistensi PDI P terhadap korupsi

Masalah pemberantasan korupsi dan penegakan hukum menjadi perhatian serius PDI Perjuangan (PDIP). PDIP tidak akan memberi ampun terhadap kader yang terlibat korupsi. Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri mempersilakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap para kadernya jika ada yang tertangkap tangan terlibat korupsi.

Ibu Mega selalu menyampaikan masalah korupsi dalam forum-forum konsolidasi. Para caleg PDIP diminta berhati-hati dengan masalah korupsi. Hal itu disampaikan Sekjen DPP PDIP Tjahjo Kumolo, usai membuka pembekalan Caleg se-Bali, NTB dan NTT di Hotel Grand Bali Beach Sanur, Denpasar, Sabtu (14/12).

Mega mengingatkan, agar kader PDIP jangan sampai terjerat tindak pidana korupsi. Kader atau para caleg, diingatkan harus membangun daerah dan terus terlibat dalam proses pegambilan keputusan politik. Dalam pengambilan keputusan politik kader PDIP harus berpegang pada pemikiran dan nurani.

"Ibu menjelaskan, telah bertemu Ketua KPK Abraham Samad dan menyampaikan silakan KPK ambil (kader PDIP) yang diduga terjerat korupsi, sepanjang tidak ada tebang pilih," tandas Tjahjo.

Jangan sampai dalam proses penegakan hukum itu lanjut Tjahjo, justru menimbulkan fitnah. Kalau ada kader yang tertangkap tangan dirinya mempersilakan diproses hukum.

"Kalau kader itu, tidak tertangkap tangan, tentunya ya kita akan membantu mekanisme hukumnya, kita harus terbuka, kalau tertangkap tangan silakan diproses," tukas Tjahjo mengutip sikap Megawati.

Selain meminta jajaranya berhati-hati, dalam menyambut pemilu dan pilpres, Megawati juga meminta agar KPU bersikap netral, demikian juga bidang Informasi Teknologi pemilu agar lebih baik lagi.

Sumber: rimanews.com